Selasa, 30 Mei 2017

Balasan yang Tak Terbaca

Nee.. Anata,
Ini tulisanku untuk membalas paragraf-paragrafmu. Biarkan aku bicara dengan keheningan disini. Membisikan untukmu tanpa kau dengar. Semua yang ku awali dengan membaca runtutan kisahmu dan aku mengerti. Aku tidak terlalu berharap kau membaca paragraf balasanku ini. Karena balasan ini didengar OlehNya-pun aku sudah merasa tenang. Aku memohon kepadaNya untuk menyampaikan ini. Walaupun aku tak tau apakah tersampaikan kepadamu dengan cepat atau tidak.

Nee.. Anata,
Saat ini aku sudah memberanikan diri untuk menyapamu dari arah punggungmu. Aku pun berani mengukir sedikit senyuman padamu. Entah senyummu itu ikhlas atau tidak, aku tak peduli. Berinteraksi denganmu saja sebenarnya sudah cukup. Itu semua sudah lebih untukku. Karena membuatmu menjadi mengenalku itu adalah suatu hal yang tak terbayang untukku. Memang saat ini masih dalam waktu hitungan jari kita mulai saling bersapa. Tidak! Tapi aku yang menyapamu. Walaupun saat ini aku masih berada di sebalik punggungmu. Setidaknya aku sudah melewati pundak-pundak kerumunan mereka. Dan kini kau sudah mulai memanggil namaku. Itu sudah membuatku sangat bahagia dimana kamu saat ini sudah tau siapa aku. 

Nee... Anata,
Maafkan aku. Aku telah berlebih untuk mencari tau tentangmu. Atau malah justru mengusik hidupmu. Mungkin hanya sebatas inilah yang aku lakukan untukmu. Sebenarnya, aku ingin membuatmu tersenyum lebih lama, bahkan membuatmu tertawa karena sikap ceriaku yang sesungguhnya. Tapi, aku malah takut itu membuatmu 'risih' dengan kehadiranku. Aku pasrahkan sisanya kepada Rabb-ku. Biar Beliau yang memutuskan siapakah sesosok akhwat yang sedang duduk manis dalam ruang menunggu dalam Qulubmu. Aku tidak terlalu berharap jika itu aku. Mungkin karena itu kelanjutan dari ketidakmungkinan. Tapi bagaimanapun, akan aku semogakan. Semua tergantung kehendakNya untukmu, Anata.

Nee..., Anata.
Aku mengerti dengan apa yang kamu katakan pada paragrafmu. Kini, biarkan aku tetap mencurahkan kepadaNya atas segala anganku, dan satu diantaranya itu adalah kamu, Anata.

Kamis, 25 Mei 2017

Ketidakmungkinan yang Aku Semogakan

(Watashi wa yoso fu kanosei)


Nee... Anata,
Kenapa aku mengatakanmu sebagai ketidakmungkinan? Sebelum aku menjawab, apa kamu tidak melihatnya? Perbedaan diantara kita? Iya! Banyak sekali ketidakmungkinan yang kita punya. Dunia mengatakan bahwa kamu tidak perlu menghadap ke belakang, padahal aku ada disitu. Berada di belakangmu yang terhalangi oleh pundak-pundak yang berkerumunan. Wajar saja jika kamu tak melihatku. 
Derajatmu yang sudah semakin menjauhiku. Ketika aku mengenalmu, derajatmupun sudah jauh dari derajatku. Dunia dan akhiratmu sedang kamu tata rapih. Bertahun-tahun kamu telah menggali ilmu untuk akhiratmu, kemudian telah kamu dapatkan berlian-berlian dari hasil ilmu yang kamu gali.
Usiamu yang sudah matang. Sudah siap untuk mencari, memilih, memantapkan, dan meng-khitbah-nya. Untuk mereka yang telah kamu cari, untuk dia yang telah kau pilih dan kau tetapkan. Pada jangkauanmu yang tidak terlalu jauh. Zona dimana garis pembatasmu tak mencapai padaku.
Kamu yang semangat dengan pendidikanmu, terlihat jelas saat aku membaca paragraf-paragraf karyamu. Kau berhasil menjadi yang terbaik pada waktu itu.
Aku tau suaramu karena aku mendengarnya. Begitu membuatku terdiam untuk tenang. Meredam amarahku. Membuatku untuk selalu mengingatNya. Aku tau wajahmu karena aku melihatnya. Aku mendengarkanmu dan melihatmu setiap aku memejam dan membuka mata. Walaupun itu melalui perantara yang fatamorgana. Bukan melalui dunia yang nyata.
Aku tau tentangmu, sedikit. Bagaimana agar aku ingin mengenalmu dan tau tentangmu lebih jauh? Memulainya? Sudah. Bagaimana agar kamu melanjutkannya. Atau bahkan jika aku ingin menemuimu, bagaimana caranya. Tapi aku hanya bisa diam. Karena ini adalah ketidakmungkinan.

Nee, Anata.
Tidak ada salahnya semua ketidakmungkinan itu aku semogakan. Hanya Beliaulah tempat aku menceritakan tentangmu. Hanya kepadaNyalah aku mengubah ketidakmungkinan ini akan menjadi kemungkinan besar. Beliaulah sang Muqallibal Qulub. Untukku dan untukmu.
Jika memang Allah mengabulkan harapanku dimana kau akan diputarkan arah menghadapku dan kau berada di belakangku, Tenanglah! Aku tidak akan membelakangimu. Naluriku akan menatapmu karena aku akan menghadapmu. Kau akan menuntunku dan aku akan menuntunmu.

Todoku ka? Apakah aku telah mencapainya? 
Watashi wa kimi no namae wo yonda. Aku terus menerus memanggil namamu.
Matte irundayou! Tunggu aku sebentar!

Nee, Anata. Hei, kamu.
Kimi ni aitaku naru. Aku ingin bertemu denganmu.
Sonna sekai wo futari de isshou. Kita mengarungi dunia dalam satu ruang waktu.
iya! Nanshou demo. Tidak! Tapi berbagai ruang waktu.

Watashi wa wasurenai. Aku tidak akan melupakanmu


Selasa, 09 Mei 2017

Penelitian Kreativitas Mahasiswa “EFEKTIVITAS SELULOSA ECENG GONDOK SEBAGAI ADSORBEN LOGAM BERAT KADNIUM (CD) DALAM LIMBAH CAIR TAHUN 2017”

Identitas Peneliti :
Ketua Peneliti :
NENI SUPRIYANTI                                (P1337433214012)
Anggota Peneliti :
1. ANGGIT PAWESTRI                          (P1337433214003)
2. TRIA RAFIKA  HIDAYAH                 (P1337433214011)
3. SHANDYTIAS WIDOASTUTI          (P1337433214027)
4. LIYANA AZIZATUL MUADIBAH   (P1337433214029)

Kelas : 3C

proposal ini kami buat untuk mengikuti lomba penelitian kreativitas mahasiswa, dalam rangka berpartisipasi untuk Diesnatalis Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto. semoga bisa bermanfaat. terimakasih

Senin, 08 Mei 2017

Fallin' Love LILLAAHI TA'AALA



Sedikit coretan, atau ungkapan, atau curahanku di tengah kesibukkanku. Yaaah, sekedar curhatin apa yang ganggu banget buat hari-hariku. Bener loh, ganggu banget! Katanya si wajar aja buat seumuran kita (21 tahun deh. Udah tua ya? wkwkwk). Langsung aja ya, apa lagi kalo bukan JATUH CINTA. Kalo diliat dari faktor fisiologis mah ini wajar ya, usia-usia segini emang umum buat ngalamin jatuh cinta. Tapi wait, kalian juga ngalamin kan? Hayolooo. Apalagi pas jaman pubertas. Mungkin malah siapa-siapa ditaksirin. Jaman-jaman kita KHILAF pokoknya.
Well, balik lagi ke masalah awal. Kita sharing aja ya, buat pengalaman juga. Blak-blakan loh. Dulu pas aku masih usia belasan (ceileh, mentang-mentang sekarang udah tua. Wkwkwk) namanya jatuh cinta mah langsung aja ga mandang kriteria macem-macem. Asal udah suka yaudah, suka aja. Apalagi sama cowo asal baik sama kita. Udah deh penyakit kronisnya langsung kambuh, BAPER!! Sampe sekarang sih masih suka baper aja. Wkwk namanya juga penyakit kronis.
Tapi menginjak umur segini, aku ulangin ya, usia 20 ke atas, kriteria-kriteria untuk lawan jenis kita semakin bermunculan. Beneran loh, bermunculan dengan sendirinya. Entah kenapa mungkin ini yang namanya fase peralihan dari remaja ke dewasa. Mungkin menjelang kita menuju ke jenjang yang lebih serius sampe nikah. Yah, siapapun juga pengen punya pasangan yang lebih baik. Dengan tujuan membimbing kita untuk menggapai Ridho-Nya. Tujuan utamanya aja menyempurnakan separuh agama kita. Kalau boleh curhat ya, ada satu hal yang mengganjal banget sama yang namanya jatuh cinta.
Pengalamanku, ditengah-tengah proses aku sedang memperbaiki diri untuk mendekatkan diri kepada Allah, aku jatuh cinta dengan laki-laki yang memiliki kriteria yang sesuai banget sama pilihan ibuku. Aku pikir inilah laki-laki yang bisa membawaku lebih dekat dengan Allah. Memiliki agama yang baik, itulah kriteria utama yang paling pertama. Sebenarnya jatuh cinta itu salah ngga sih? Dosa nggak sih? Trus baper itu salah juga ngga sih? Mau gimana lagi, aku bener-bener cewe tulen, mengandalkan perasaan, perasaan dan perasaan. Bener-bener berasa bodoh banget! Terus aja dinikmatin masa-masa jatuh cinta itu. terus-terus nungguin dia.
Tapi tanpa sadar, semakin menikmati prosesi jatuh cinta itu, aku merasa aku jadi lebih jauh dengan Allah   itu diliat dari waktu-waktu yang aku pakai buat berdzikir, berdoa, dan bermusahabah malah dipake buat mikirin dia, nungguin kabar dari dia. Padahal aku pikir inilah namanya jatuh cinta karena Allah. Tapi nyatanya? Ini malah justru buat aku semakin jauh dari-Nya. Memang sih dia punya kriteria yang aku inginkan, yaitu punya ilmu agama yang baik biar aku terus dibimbing dia. Tapi ternyata enggak!!! Justru aku malah semakin lalai kepada Allah, dan ujung-ujungnya malah aku dijauhin wkwkwk. Bener-bener buat aku kembali seperti ke masa-masa khilafku lagi. Aku bertanya-tanya lagi dengan pertanyaan sebenarnya jatuh cinta itu salah ngga sih? Dosa ngga sih? Baper itu salah juga ngga sih? Dosa juga ngga sih?
Oke fix, aku ambil hikmahnya aja. Jatuh cinta itu ngga salah, Cuma aku orangnya terlalu terbawa perasaan. Dan itu yang buat aku jatuh cinta itu penyebab aku jauh dengan Allah. Baper juga ngga salah. Semua itu sifat alamiah semua manusia kok. Cuma mungkin akunya aja yang masih lemah. Dikit-dikit baper. Jatuh cinta dan baper itu ngga dosa. Yang bikin dosa itu keduanya nyita waktuku yang harusnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, jadi aku semakin melalaikannya. Dan mungkin ini belum waktunya aku buat merasakan salah satu NIKMAT ALLAH yang istimewa, yaitu JATUH CINTA KARENA ALLAH. Semoga kelak Allah akan meberikan nikmat itu pada laki-laki yang kelak menjadi penyempurna dari separuh agamaku kelak. Yang aku inginkan adalah mendapatkan laki-laki yang seperti kakakku. Seorang pekerja keras dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Seorang pembimbing yang sempurna.