Nee... Anata,
Kenapa aku mengatakanmu sebagai ketidakmungkinan? Sebelum aku menjawab, apa kamu tidak melihatnya? Perbedaan diantara kita? Iya! Banyak sekali ketidakmungkinan yang kita punya. Dunia mengatakan bahwa kamu tidak perlu menghadap ke belakang, padahal aku ada disitu. Berada di belakangmu yang terhalangi oleh pundak-pundak yang berkerumunan. Wajar saja jika kamu tak melihatku.
Derajatmu yang sudah semakin menjauhiku. Ketika aku mengenalmu, derajatmupun sudah jauh dari derajatku. Dunia dan akhiratmu sedang kamu tata rapih. Bertahun-tahun kamu telah menggali ilmu untuk akhiratmu, kemudian telah kamu dapatkan berlian-berlian dari hasil ilmu yang kamu gali.
Usiamu yang sudah matang. Sudah siap untuk mencari, memilih, memantapkan, dan meng-khitbah-nya. Untuk mereka yang telah kamu cari, untuk dia yang telah kau pilih dan kau tetapkan. Pada jangkauanmu yang tidak terlalu jauh. Zona dimana garis pembatasmu tak mencapai padaku.
Kamu yang semangat dengan pendidikanmu, terlihat jelas saat aku membaca paragraf-paragraf karyamu. Kau berhasil menjadi yang terbaik pada waktu itu.
Aku tau suaramu karena aku mendengarnya. Begitu membuatku terdiam untuk tenang. Meredam amarahku. Membuatku untuk selalu mengingatNya. Aku tau wajahmu karena aku melihatnya. Aku mendengarkanmu dan melihatmu setiap aku memejam dan membuka mata. Walaupun itu melalui perantara yang fatamorgana. Bukan melalui dunia yang nyata.
Aku tau tentangmu, sedikit. Bagaimana agar aku ingin mengenalmu dan tau tentangmu lebih jauh? Memulainya? Sudah. Bagaimana agar kamu melanjutkannya. Atau bahkan jika aku ingin menemuimu, bagaimana caranya. Tapi aku hanya bisa diam. Karena ini adalah ketidakmungkinan.
Nee, Anata.
Tidak ada salahnya semua ketidakmungkinan itu aku semogakan. Hanya Beliaulah tempat aku menceritakan tentangmu. Hanya kepadaNyalah aku mengubah ketidakmungkinan ini akan menjadi kemungkinan besar. Beliaulah sang Muqallibal Qulub. Untukku dan untukmu.
Jika memang Allah mengabulkan harapanku dimana kau akan diputarkan arah menghadapku dan kau berada di belakangku, Tenanglah! Aku tidak akan membelakangimu. Naluriku akan menatapmu karena aku akan menghadapmu. Kau akan menuntunku dan aku akan menuntunmu.
Todoku ka? Apakah aku telah mencapainya?
Watashi wa kimi no namae wo yonda. Aku terus menerus memanggil namamu.
Matte irundayou! Tunggu aku sebentar!
Nee, Anata. Hei, kamu.
Kimi ni aitaku naru. Aku ingin bertemu denganmu.
Sonna sekai wo futari de isshou. Kita mengarungi dunia dalam satu ruang waktu.
iya! Nanshou demo. Tidak! Tapi berbagai ruang waktu.
Watashi wa wasurenai. Aku tidak akan melupakanmu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar