Senin, 10 Juli 2017

Curahan dari Otakku untuk Hatiku

Hai hatiku, aku heran denganmu. Sering sekali otakku merasa kau ini aneh. Terheran-heran mengapa ini bisa menimpamu, wahai hati didalam tubuhku.

Duhai hatiku, otakku menilaimu bahwa kau tidak memiliki tulang. Kau terasa lunak. Iya, secara fisik memang kau itu lunak. Dan secara psikis kau itu terasa TERLALU LUNAK. Bagaimana bisa otakku menilaimu dari segi psikis kau terlalu lunak? Memang, karena kau begitu supel. Kau mudah sekali untuk luluh. Diriku mencoba berfikir mungkin inilah garis qodrat wanita yang mengandalkan perasaan dari hati ketimbang logika pada otak. Diriku pun sudah mengatakan kepadamu untuk menuruti otakku. Itu semua demi kebaikanmu. Memang awalnya sudah berjalan dengan baik, kau telah berjalan teratur bersamaan dengan otakku. Beriringan, bersamaan, dan seirama dengannya. Saat itu, ada yang menyentuhmu. Kau masih bersama dengan otakku. Semakin berjalan, semakin lama waktu telah menelan, kau semakin terpisah dengan otakku yang tak menyadarinya. Semakin terpisah dan semakin medekat dengan ia yang telah menyentuhmu. Otakku sudah meneriakimu agar kau tak menjauhinya. Namun kau semakin asyik dengannya.

Otakku melihat kau terbang bersama dengannya, semakin menjauh dan kau hanya melihat ke bawah sedikit-sedikit saja. Yaah, otakku sudah menyerah melihat tingkahmu. Semua karena melihatmu bahagia, tanpa memandang logika, kau semakin terbawa olehnya. Otakku mengingatkanmu bahwa ini bukan kejadian pertama kali yang kau alami. Inilah kamu, yang tidak mengenal kata trauma. Kau mengikuti semua kehendaknya. Kau memberikan apa yang membuat ia bahagia. Kau semakin memberikan semua untuknya demi kau agar terus bersamanya. Itulah yang membuat otakku heran dengan tingkahmu. Kau berani berkorban demi ia yang belum kau tau dari kedua sisinya. Padahal kau sendiri yang meminta agar kau ingin selalu bersama dengan otakku. Kau sendiri yang berkata bahwa kau akan kuat. Otakku khawatir dengan tingkahmu yang berbeda jauh dengan apa yang kamu harapkan. Dan kehawatiran dari otakkupun terjadi. Yah, apalagi selain kau terjatuh. Semua terjadi saat kau semakin terbang tinggi dan semakin asyik dengannya. Iya, dengan dia yang telah menyentuhmu hanya untuk sekedar bermain bersama. Bukan untuk mengiringi perjalananmu dengan otakku.

Wahai hatiku, kau dan otakku bersama-sama dalam diriku. Aku memohon untukmu agar kau lebih kuat dan lebih keras lagi. Berjalanlah dengan otakku. Peganglah otakku dengan kuat. Percayalah dengannya. Kau harus seiringan bersama otakku agar kau bisa menemukan ia yang akan menyentuhmu dan mengiringi perjalananmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar