Hai hatiku, aku heran denganmu. Sering sekali otakku merasa
kau ini aneh. Terheran-heran mengapa ini bisa menimpamu, wahai hati didalam
tubuhku.
Duhai hatiku, otakku menilaimu bahwa kau tidak memiliki
tulang. Kau terasa lunak. Iya, secara fisik memang kau itu lunak. Dan secara
psikis kau itu terasa TERLALU LUNAK. Bagaimana bisa otakku menilaimu dari segi
psikis kau terlalu lunak? Memang, karena kau begitu supel. Kau mudah sekali
untuk luluh. Diriku mencoba berfikir mungkin inilah garis qodrat wanita yang
mengandalkan perasaan dari hati ketimbang logika pada otak. Diriku pun sudah
mengatakan kepadamu untuk menuruti otakku. Itu semua demi kebaikanmu. Memang
awalnya sudah berjalan dengan baik, kau telah berjalan teratur bersamaan dengan
otakku. Beriringan, bersamaan, dan seirama dengannya. Saat itu, ada yang
menyentuhmu. Kau masih bersama dengan otakku. Semakin berjalan, semakin lama
waktu telah menelan, kau semakin terpisah dengan otakku yang tak menyadarinya.
Semakin terpisah dan semakin medekat dengan ia yang telah menyentuhmu. Otakku
sudah meneriakimu agar kau tak menjauhinya. Namun kau semakin asyik dengannya.
Otakku melihat kau terbang bersama dengannya, semakin
menjauh dan kau hanya melihat ke bawah sedikit-sedikit saja. Yaah, otakku sudah
menyerah melihat tingkahmu. Semua karena melihatmu bahagia, tanpa memandang
logika, kau semakin terbawa olehnya. Otakku mengingatkanmu bahwa ini bukan
kejadian pertama kali yang kau alami. Inilah kamu, yang tidak mengenal kata
trauma. Kau mengikuti semua kehendaknya. Kau memberikan apa yang membuat ia
bahagia. Kau semakin memberikan semua untuknya demi kau agar terus bersamanya.
Itulah yang membuat otakku heran dengan tingkahmu. Kau berani berkorban demi ia
yang belum kau tau dari kedua sisinya. Padahal kau sendiri yang meminta agar
kau ingin selalu bersama dengan otakku. Kau sendiri yang berkata bahwa kau akan
kuat. Otakku khawatir dengan tingkahmu yang berbeda jauh dengan apa yang kamu
harapkan. Dan kehawatiran dari otakkupun terjadi. Yah, apalagi selain kau
terjatuh. Semua terjadi saat kau semakin terbang tinggi dan semakin asyik
dengannya. Iya, dengan dia yang telah menyentuhmu hanya untuk sekedar bermain
bersama. Bukan untuk mengiringi perjalananmu dengan otakku.
Wahai hatiku, kau dan otakku bersama-sama dalam diriku. Aku
memohon untukmu agar kau lebih kuat dan lebih keras lagi. Berjalanlah dengan
otakku. Peganglah otakku dengan kuat. Percayalah dengannya. Kau harus seiringan
bersama otakku agar kau bisa menemukan ia yang akan menyentuhmu dan mengiringi
perjalananmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar